Ringkasan Ilmiah (Resume) "Model - Model Penelitian Agama Sebagai Produk Interaksi Sosial"
TUGAS AKHIR MEMBUAT RINGKASAN ILMIAH (RESUME)
Fakultas : Ushuluddin dan Dakwah
Kampus : IAIN Kediri
Mata Kuliah: Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu: Dr. Muhammad Arif, M.A.
Kelas : Psikologi Islam 3-A
Kelompok 7:
1. Sinta Alifatul Kholillah / 22104006
2. Elina Vanesa Dea / 22104007
3. Bela Kamila Puspita / 22104008
Ringkasan Ilmiah dari Buku Studi Islam dalam Dinamika Global
Penulis : Dr. Mohammad Arif, M.A.
Bagian : BAB 7, Model-Model Penelitian Agama Sebagai Produksi Interaksi Sosial (Halaman: 155-172).
Penulis : Dr. Mohammad Arif, M.A.
Bagian : BAB 7, Model-Model Penelitian Agama Sebagai Produksi Interaksi Sosial (Halaman: 155-172).

1.1 PENDAHULUAN
Agama merupakan elemen penting dalam kehidupan sosial manusia, berperan dalam membentuk nilai-nilai, norma, dan perilaku individu serta komunitas. Agama telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia, baik secara individu maupun kolektif. Agama memberikan pedoman hidup, nilai-nilai moral, dan identitas sosial bagi manusia. Agama terbentuk dan berkembang dalam konteks interaksi sosial. Agama tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui proses interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Proses interaksi tersebut dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti interaksi antar individu, interaksi antar kelompok, dan interaksi antara manusia dengan alam. Agama dapat menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial. Agama dapat menyatukan orang-orang yang berbeda latar belakang menjadi satu komunitas. Dalam konteks ini, penelitian agama sering kali dilihat sebagai studi tentang doktrin dan praktik keagamaan. Namun, ada pendekatan lain yang melihat agama sebagai produk dari interaksi sosial.Model-model penelitian agama sebagai produksi interaksi sosial menekankan pada bagaimana agama dibentuk dan diperbarui melalui interaksi antara individu dan kelompok. Ini mencakup bagaimana simbol-simbol, ritual, dan doktrin agama dipahami dan diterapkan dalam konteks sosial tertentu.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami agama dari perspektif yang lebih dinamis dan kontekstual. Namun, ini juga memerlukan pemahaman yang mendalam tentang proses interaksi sosial dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh agama. Penelitian agama sebagai produk interaksi sosial dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, seperti metode historis, metode sosiologis, metode antropologis dan lain sebagainya. Metode historis digunakan untuk mempelajari perkembangan agama dari masa ke masa. Metode sosiologis digunakan untuk mempelajari peran agama dalam masyarakat. Metode antropologis digunakan untuk mempelajari agama dalam konteks budaya tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi dan memahami berbagai model penelitian agama sebagai produksi interaksi sosial.
Pendekatan ini membuka peluang untuk memahami agama dari perspektif yang lebih dinamis dan kontekstual. Namun, ini juga memerlukan pemahaman yang mendalam tentang proses interaksi sosial dan bagaimana mereka mempengaruhi dan dipengaruhi oleh agama. Penelitian agama sebagai produk interaksi sosial dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode, seperti metode historis, metode sosiologis, metode antropologis dan lain sebagainya. Metode historis digunakan untuk mempelajari perkembangan agama dari masa ke masa. Metode sosiologis digunakan untuk mempelajari peran agama dalam masyarakat. Metode antropologis digunakan untuk mempelajari agama dalam konteks budaya tertentu. Oleh karena itu, penting untuk mengeksplorasi dan memahami berbagai model penelitian agama sebagai produksi interaksi sosial.
1.2 RINGKASAN ILMIAH (RESUME)
Ringkasan Ilmiah dari Buku Studi Islam dalam Dinamika GlobalPenulis : Dr. Mohammad Arif, M.A.
Bagian : BAB 7, Model-Model Penelitian Agama Sebagai Produk Interaksi Sosial (Halaman: 155 – 172 )
A. Pengertian Agama
Secara sederhana, pengertian agama dapat dilihat dari sudut kebahasaan dan sudut istilah . Dari arti bahasa, agama berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi turun-temurun”. Sedangkan kata “din” atau yang berasal dari bahasa arab menyandang arti antara lain menguasai, memudahkan, patuh, utang, balasan atau kebiasaan.Di samping agama juga merupakan satu sistem credo (tata keimanan atau tata keyakinan) dan satu sistem ritus (tata peribadatan), agama juga adalah satu sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan yang ada.

B. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial menurut kutipan Gillin and Gillin, cultural sosiologi yakni interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antar orang-perorangan, antara kelompok dengan manusia, maupun perorangan dengan kelompok.Menurut beberapa ahli yang mengatakan interaksi sosial salah satunya yakni George simmel, hakikat hidup bermasyarakat terdiri dari relasi-relasi yang mempertemukan mereka dalam usaha-usaha bersama, seperti beragama, pencarian nafkah, perkawinan, hidup berkeluarga dan pendidikan, rekreasi dan pertahanan.
Pandangan yang tidak jauh berbeda dikemukakan oleh Aristoteles bahwa pada dasarnya manusia terdiri dari unsur jiwa dan badan. Jiwa dan badan dianggap sebagai dua aspek yang menyangkut satu substansi saja. Oleh karena itu, manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial yang memiliki fisik dan tidak terpisahkan dari makhluk lain. Dua aspek saling berhubungan sebagai bentuk dan materi. Karena bentuk dan materi masing-masing berperan sebagai potensi.
Aliran spiritualisme memandang bahwa manusia tidak dapat melepaskan hubungan dengan manusia lain dan juga dengan zat yang kekal. Menurut salah satu tokoh aliran spiritualisme yaitu Plato yang berpendapat bahwa ajaran Plato yang ber- intikan dualisme memandang bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat dilepaskan dari makhluk lainnya. Dalam aliran ini juga ditegaskan bahwa keutamaan manusia adalah apabila ia memiliki kelurusan budinya yang tentu saja hal ini sangat berkaitan dengan orang lain. Salah satu tokoh spiritualis lainnya yaitu Thomas Aquino yang pada prinsipnya memandang bahwa manusia pada dasarnya selain sebagai makhluk rohani sekaligus adalah makhluk jasmani dengan keutamaan budinya dan kehendaknya melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan orang lain.
Aliran eksistensialisme yang antara lain dipelopori oleh Soren Kierkegaard, Jean Paul Sarte dan Gabriel Marcel menyimpulkan bahwa manusia pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari manusia lainnya. Faktor – faktor interaksi sosial antara lain :
• Imitasi: proses sosial atau tindakan sosial untuk meniru orang lain baik sikap, penampilan gaya hidupnya, bahkan pula segala yang dimilikinya.
• Sugesti: rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lainnya.
• Identifikasi: kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain.
• Simpati: suatu proses ketika seseorang merasa tertarik pada pihak lain berkaitan dengan perilaku atau penampilannya.
• Empati: kemampuan untuk merasakan diri seolah –olah dalam keadaan orang lain dan ikut merasakan hal-hal yang dialami atau dirasakan orang lain.
• Motivasi: dorongan, rangsangan pengaruh atau stimulan yang diberikan individu lainnya.
Kedudukan manusia sebagai makhluk individu dan sekaligus sebagai makhluk sosial menyebabkan ia selalu dalam keadaan memilih antara kepemihakan kepada kepentingan bersama secara kolektif. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendirian, kehadirannya di bumi sejak awal kehidupannya mulai masa prenatal, bayi, balita, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, manula hingga meninggalnya pun masih membutuhkan orang lain. Tidak ada satu pun manusia yang tidak membutuhkan orang lain, sehebat apa pun manusia itu. Justru semakin tinggi kedudukan seseorang semakin tinggi pula kebutuhannya terhadap orang lain. Di sisi lain, semakin lemah posisi seseorang semakin tinggi pula ketergantungan kepada orang lain. Jelasnya, setiap orang dalam keadaan bagaimanapun pasti membutuhkan orang lain.
Kesadaran tentang kebutuhan terhadap orang lain merupakan bukti kuat bahwa sesungguhnya manusia yang kini terdiri atas berbagai bangsa dengan keragaman suku, budaya, agama, dan semacamnya pada dasarnya merupakan satu kesatuan kemanusiaan. Artinya, perbedaan identitas etnis, budaya, ideologi, afiliasi politik dan agama atau kepercayaan adalah implikasi historis dari respons manusia terhadap dinamika sosial yang hidup dan berkembang di sekitarnya.
C. Model – Model Penelitian Keagamaan
Model-Model penelitian keagamaan memiliki perbedaan antara penelitian agama dan penelitian hidup keagamaan, akan tetapi menurut Djamari menegaskan metode sosiologi dalam kajian agama, yang secara tidak langsung memperlihatkan model–model penelitian agama melalui pendekatan sosiologis. Djamari, Dosen Pascasarjana IKIP Bandung menjelaskan bahwa kajian sosiologi agama dengan menggunakan beberapa metode ilmiah. Pengumpulan data dan metode yang digunakan antara lain:1. Analisis Sejarah.
Sejarah dapat menyajikan gambaran tentang unsur – unsur yang mendukung timbulnya suatu lembaga dan pendekatan sejarah bertujuan untuk menemukan inti karakter agama, dengan meneliti sumber klasik sebelum dicampuri yang lain dalam menggunakan data historis, sejarawan cenderung menyajikan detail dari situasi sejarah dan sebab akibat dari suatu kejadian sosiologi mencari pola hubungan antara kejadian sosial dan karakteristik agama.
2. Analisis lintas budaya.
Dengan membandingkan pola–pola sosial keagamaan di beberapa daerah kebudayaan, sosiolog dapat memperoleh gambaran tentang korelasi unsur budaya tertentu kondisi sosial kultural secara umum. Weber mencoba membuktikan teorinya tentang relasi antara etika Protestan dengan kebangkitan kapitalisme .melalui kajian agama dan ekonomi di agama dan cina.
3. Eksperimen.
Penelitian yang menggunakan eksperimen agak sulit dilakukan dalam penelitian agama namun, ada beberapa hal eksperimen yang dapat dilakukan dalam penelitian agama misalnya mengevaluasi perbedaan hasil belajar, dalam beberapa model pendidikan agama.
4. Observasi partisipatif.
Dengan partisipasi dalam kelompok peneliti dapat mengobservasi perilaku orang-orang dalam konteks religius. Baik diketahui atau tidak oleh orang yang sedang diobservasi diantara kelebihan penelitian ini adalah memungkinkannya pengamatan simbolis antar anggota kelompok secara mendalam adapun salah satu kelemahannya adalah terbatasnya data dalam kemampuan observer.
5. Riset survei dan analisis statistik.
Untuk mendukung pendapat mengenai keteraturan itu, dalam ilmu sosial digunakan ilmu–ilmu statistik yang juga digunakan dalam ilmu-ilmu kealaman. Penelitian survei dilakukan dengan penyusunan kuesioner, interview dengan sampel dari suatu populasi.
6. Analisis isi.
Peneliti mencoba mencari keterangan dari tema –tema agama, baik berupa tulisan buku-buku kotbah, doktrin maupun deklarasi teks.
D. Pandangan Ajaran Islam Tentang Ilmu Sosial
Sejak kelahirannya belasan abad yang lalu, Islam telah tampil sebagai agama yang memberi perhatian pada keseimbangan hidup antara dunia dan akhirat, antara hubungan manusia dengan tuhan, dan antara hubungan manusia dengan manusia, antara urusan ibadah dengan urusan muamalah. Selanjutnya jika adakan perbandingan antara perhatian Islam terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata Islam menekankan urusan muamalah lebih besar dari pada urusan ibadah dalam arti yang khusus.Keterkaitan adanya dengan masalah kemanusiaan sebagai mana tersebut diatas menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman modern ini. Kita mengetahui bahwa manusia menghadapi berbagai macam persoalan yang benar –benar membutuhkan pemecah segera kadang-kadang kita merasa bahwa situasi yang penuh dengan problematik didunia modern justru di sebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri.
Dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dunia modern sesungguhnya menyimpan suatu potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Umat manusia telah berada mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama kita juga dapat melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Tetapi ternyata didunia modern ini manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu lain, yaitu penyembahan kepada hasilnya ciptaan dirinya sendiri.
Dalam keadaan demikian kita saat ini nampaknya sudah mendesak untuk memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari problem tersebut diatas. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksudkan adalah ilmu pengetahuan yang di gali dari ilmu –ilmu agama. Kuntowijoyo menyebutnya sebagai ilmu sosial profetik, yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita –cita, etika dan profesi tertentu, yaitu perubahan yang di dasarkan pada tiga hal yaitu cita-cita kemanusiaan, liberasi, dan transendensi.
E. Islamisasi Ilmu Pengetahuan Abubakar A. Budger
Ilmu-ilmu sosial dalam perkembangannya telah mendapatkan penghargaan tinggi didunia modern karena dinilai telah mampu menampilkan analisa terhadap peristiwa-peristiwa kontemporer, dalam masyarakat industri telah melahirkan gagasan diantara mereka tentang adanya ikatan organik antara industrialisasi dan perkembangan ilmu-ilmu sosial. Dengan gagasan ini muncullah keyakinan bahwa hukum-hukum evolusi sosial dan ekonomi dalam masyarakat yang maju harus dapat diaplikasikan kepada masyarakat-masyarakat yang sedang berkembang.Untuk dapat menjawab berbagai persoalan kemasyarakatan, maka perlu pengintegrasian ilmu-ilmu sosial Islam dengan ilmu-ilmu sosial yang berorientasi barat, sehingga tidak terjadi dikotomi ilmu dalam pemahaman dan pengaplikasiannya.
F. Penelitian Agama dan Penelitian Keagamaan
Kajian agama menekankan pada aspek ideologi (pemikiran) dan interaksi sosial. Dalam bidang refleksi menggunakan metode keilmuan filosofis dan humanistik. Di sisi lain, bidang interaksi sosial melibatkan kajian agama sebagai produk interaksi sosial, terutama dengan menggunakan pendekatan sosiologi, antropologi, sejarah atau sosio-historis, konferensi rutin, dan lain-lain.Bagi Middleton, kajian Islam adalah kajian yang membahas hakikat Islam, seperti kalam, fiqh, etika, dan tasawuf. Sedangkan menurut Juhaya S. Praja, kajian agama adalah ilmu yang mempelajari asal usul agama serta pemikiran dan pemahaman pemeluk agama tersebut terhadap ajarannya.
Agama diwariskan dan diungkapkan dalam tingkah laku dan sikap manusia serta merupakan hasil interaksi sosial. Oleh karena itu merupakan bagian dari ilmu sosial dan sejarah.
G. Penelitian Agama sebagai Produk Interaksi Sosial
Kajian agama merupakan kajian tentang agama sebagai produk interaksi sosial. Metode yang digunakan adalah dengan mempelajari fenomena sosial dan budaya secara umum. Meskipun penelitian ilmu sosial dikenal non-ilmiah, namun penelitian ini berupaya mendekati kajian alam dalam kajian agama sebagai fenomena sosial.Di antara ilmu alam dan kajian budaya, terdapat penelitian ilmu sosial yang berupaya memahami fenomena melalui pemahaman tentang pengulangan, bukan pengulangan fenomena. Oleh karena itu, terdapat permasalahan dalam objektivitas penelitian ilmu sosial. Jika kita memandang agama sebagai fenomena sosial, pada hakikatnya didasarkan pada konsep sosiologis agama. Sosiologi mempelajari hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat. Masyarakat mempengaruhi agama dan sebaliknya.
Dalam hal ini, kami menganggap Islam sebagai fenomena sosial yang perlu disampaikan adalah bahwa pendapat kita terhadap masalah keagamaan sangat dipengaruhi oleh kepentingan, situasi dan keadaan di mana kita hidup. Penelitian interaksional ini memungkinkan untuk melihat lebih dekat ilmu-ilmu sosial dibandingkan ilmu-ilmu alam. Dengan begitu, metodologi ilmu pengetahuan alam dapat diterapkan.

H. Wujud Islam Sebagai Produk Sosial
Sejak kelahirannya sepuluh abad yang lalu, Islam telah berkembang menjadi agama yang mementingkan keseimbangan kehidupan, termasuk hubungan antara dunia dan akhirat, manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, serta hubungan antara urusan ibadah dan masalah agama.Hubungan antara agama dan isu-isu kemanusiaan di atas menjadi penting bila diterapkan pada situasi kemanusiaan kontemporer. Meskipun manusia telah mengatur perekonomian, mengatur struktur politik, dan membangun peradaban maju, kita juga mendapati diri kita terpikat oleh kreativitas dan inovasi.
Melalui ilmu-ilmu sosial, umat Islam akan mampu mengatasi tahapan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini dan juga mampu meredam berbagai kerusuhan sosial dan aktivitas kriminal lainnya yang saat ini berdampak pada kehidupan banyak orang. Semua manusia dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak yang sama. Setiap orang harus dibimbing oleh akal dan hati nurani serta memperlakukan satu sama lain dengan kasih persaudaraan. Agama dipandang sebagai sumber nilai-nilai yang memandu tingkah laku individu anggota masyarakat yang mempunyai keinginan naluriah akan kebebasan. Oleh karena itu, Galen (dalam Bauman) disebut sebagai naluri universal.
Setiap orang berusaha melepaskan keinginan akan kepuasan batin ini. Di sisi lain, upaya individu dalam memenuhi kebutuhannya tidak lepas dari interaksi dengan orang lain dalam masyarakat. Oleh karena itu, upaya setiap individu untuk mempertahankan eksistensi pribadinya tidak terlepas dari upayanya untuk mempertahankan eksistensinya dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam hal ini, perilaku individu dalam kehidupan bermasyarakat harus dibentuk dengan memperhatikan preferensi tertentu.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, pengertian kehidupan beragama dan bermasyarakat tidak dapat dipisahkan dari tatanan sosial masyarakat itu sendiri. Agama memposisikan dirinya sebagai salah satu elemen suprastruktur ideologi yang ada dalam masyarakat.
Komentar
Posting Komentar